January 30, 2023

Techinfodepot.info – Halo semuanya, disini kami akan membasas mengenai Tajen Budaya sabung ayam di Bali. Mungkin kalian sudah tidak asing lagi dengan istilah sabung ayam. Bagi kalian yang belum mengetahuinya, sabung ayam adalah permainan mengadu dua ekor ayam dalam satu arena kecil. Jika salah satu ayam keluar arena atau bahkan mati, maka ayam tersebut dianggap kalah.

Permainan sabung ayam cukup populer di kalangan masyarakat di sejumlah daerah, salah satunya di Bali. Namun Pulau Dewata memiliki istilah sendiri yaitu Tajen. Yang ternyata tajen sudah menjadi tradisi orang Bali sejak ratusan tahun lalu. Lantas, bagaimana sejarah munculnya tajen di Bali? Lalu apa makna dibalik permainan sabung ayam ini? Nah, disini kami akan menjelaskan sejarah singkat dan budaya Sabung Ayam di Bali

Mengenal Budaya Sabung Ayam di Bali

Dijelaskan dalam e-Journal bertajuk Gede Kamajaya, Tajen, dan Desakralisasi Pura oleh Ida Bagus Gede Eka Diksyiantara, dkk, permainan sabung ayam atau tajen merupakan budaya Bali yang sudah berlangsung sejak zaman Majapahit. Hal ini tertuang dalam kitab atau pedoman Pararaton, yang sekarang disebut sebagai kepustakaan Babad.

Disebutkan dalam kitab Pararaton, Tajen sudah berlangsung lama sejak zaman kerajaan Bali. Namun, buku tersebut tidak menyebutkan apakah Tajen saat itu disertai taruhan atau tidak.

Kemudian pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong yaitu pada zaman Gelgel, Tajen mulai sering diadakan di depan Pura Goa Lawah dan sudah menjadi tradisi yang mendarah daging oleh masyarakat pada masa itu. Hal ini dikarenakan sabung ayam bukan hanya sekedar permainan sabung ayam, namun sudah menjadi ritual keagamaan.

Seiring waktu, permainan Tajen berkembang pesat. Bahkan pada masa kemerdekaan sebelum tahun 1980-an, para penyelenggara tajen memanfaatkan kesempatan ini untuk menggalang dana untuk pembangunan desa, sehingga permainan tajen perlu mendapat izin dari pihak yang berwenang.

Makna Kegiatan Tajen : Sabung Ayam di Bali

Dijelaskan dalam e-Journal bertajuk Hukum Adat Perjudian Mempengaruhi Kondisi Sosial di Bali oleh Rendi Apriyansah, istilah Tajen berasal dari kata taji yang berarti susuk di kaki ayam. Dalam bahasa Bali kata taji berarti sesuatu yang tajam, jadi taji dapat diartikan sebagai sesuatu yang tajam.

Dari istilah tersebut, ayam yang mengikuti sabung ayam harus memiliki taji agar bisa mengalahkan lawannya. Selain itu tajen bukan hanya sekedar permainan sabung ayam tetapi juga digunakan sebagai sarana upacara keagamaan.

Dalam budaya Bali, Tajen diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu Tabuh Rah, Tajen Terang, dan Tajen Branangan. Agar kalian tidak bingung, simak penjelasan singkatnya di bawah ini:

– Tabuh Rah

Tabuh Rah adalah sabung ayam yang dilakukan untuk upacara agama Hindu di Bali yaitu Bhuta Yadnya, dimana sabung ayam ini digunakan sebagai sarana untuk mengeluarkan darah ayam. Kemudian darah tersebut diberikan kepada Bhuta Kala dalam bentuk persembahan agar tidak mengganggu manusia lagi.

Sebagai informasi, seluruh elemen masyarakat Hindu di Bali terlibat dalam Tabuh Rah. Jadi, dalam proses Tabuh Rah tidak ada unsur judi karena merupakan upacara keagamaan, sehingga hanya digunakan tiga ekor ayam untuk Tajen.

– Tajen Terang

Tajen Terang adalah sabung ayam yang dilakukan untuk kepentingan penghimpunan dana dan pembangunan desa di Bali. Berbeda dengan Tabuh Rah yang termasuk dalam ritual keagamaan, Tajen Terang sudah memiliki unsur perjudian di dalamnya.

Namun, praktik perjudian mulai dikesampingkan karena Tajen Terang dilaksanakan untuk menambah dana desa. Selain itu, sabung ayam ini juga telah mendapat izin dari pihak berwenang dan perangkat desa, sehingga tajen tidak dianggap ilegal.

– Tajen Branangan

Tajen Branangan adalah sabung ayam yang diadakan secara diam-diam dan lokasinya sengaja dibuat jauh dari desa, sehingga tidak dapat diawasi oleh pihak yang berwajib. Dan memiliki unsur perjudian yang kuat dan tidak mendapatkan izin dari perangkat desa dan pihak berwenang.

Meski mirip dengan slot Tajen Terang, namun ada yang membedakannya dengan Tajen Branangan. Selain masalah perizinan, di Tajen Terang nilai taruhan yang dilakukan botoh (orang yang berjudi sabung ayam) cukup kecil, hanya ratusan ribu saja.

Berbeda dengan botoh yang berjudi di Tajen Branangan, nilai taruhannya bisa mencapai jutaan bahkan ratusan juta. Namun seiring berjalannya waktu, jarang ditemukan orang yang melakukan Tajen Branangan karena taruhannya tinggi. Kini banyak masyarakat Bali yang beralih ke Tajen Terang karena dianggap lebih aman.

Sekian penjelasan dari kami tentang Tajen Budaya Sabung Ayam di Bali. Jika kalian ingin mencoba game sabung ayam online, kami sarankan main dan daftar disitus yang kami rekomendasikan di Depo777.